Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai paradigma baru manajemen pendidikan, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dari paradigma itu sendiri. Secara etimologi arti paradigma adalah sutu model dalam teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir. Maka dapat diambil kesimpulan, paradigma baru manajemen pendidikan adalah suatu model kerangka berpikir yang baru untuk mengubah pendidikan ke arah yang lebih baik.
Ada beberapa paradigma baru yang dapat diaplikasikan ke dalam pendidikan, yaitu:
1. Kompetitif
Dalam bahasa sehari-harinya kita lebih mengenal kata kompetitif dengan kata persaingan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa menghindar dari persaingan, baik persaingan dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Tetapi apakah yang harus kita lakukan agar kita berhasil dalam suatu persaingan?
Beberapa komponen yang dapat membantu kita meraih keberhasilan dalam suatu persaingan:
a. Kemampuan
Untuk membantu kita melakukan segala sesuatunya, diperlukanlah kemampuan dari diri kita. Jikalau kita belum mempunyai kemampuan, maka hal yang perlu dilakukan adalah belajar.
b. Kemauan
Di samping kita memerlukan kemampuan, kita memerlukan kemauan. Karena jika hanya kemampuan tanpa kemauan, maka kemampuan itu akan sia-sia. Begitupun sebaliknya, jika kemauan tanpa kemampuan, maka kemauan itu tidak ada gunanya.
c. Mengikuti Aturan
Seseorang yang pandai namun tidak mengikuti aturan yang berlaku, maka ia layaknya seorang pemain sepakbola yang handal namun ketika ia bermain ia mengenakan sepatu pantofel.
d. Sportifitas
Orang yang menjunjung tinggi nilai sportifitas, maka ia memudahkan langkahnya guna mencapai sesuatu yang ia inginkan.
2. Transparan
Transparan mengandung pengertian kejelasan dan kepastian. Maka dalam pendidikan itu diperlukan kejelasan dan kepastian dalam pemberian informasi yang berkaitan dengan pendidikan, agar diketahui dan dipahami oleh seluruh komponen yang terkait dalam pendidikan.
3. Spesialis
Orang-orang yang berhasil bukanlah orang-orang yang biasa-biasa saja, tetapi mereka yang memiliki kemampuan spesial dibandingkan dengan yang lainnya.
4. Profesional
Profesional dapat dikatakan orang yang berpegang teguh pada kode etik profesinya. Berikut adalah ciri-ciri orang yang profesional:
a. Sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja. Contohnya: seorang pemain sepakbola menggunakan sebagian waktunya untuk berlatih.
b. Hidup untuk pekerjaannya. Orang-orang yang professional adalah orang yang hidup untuk bekerja, bukan orang yang bekerja untuk hidup.
c. Memiliki pengetahuan dan etika. Dua hal tersebut berperan penting guna membantu orang mendapat gelar profesional.
5. Dinamis (Terus berubah, terus berkembang)
Seiring perkembangan zaman dibutuhkan juga perkembangan dan perubahan dari cara berpikir manusia. Selain itu dibutuhkan juga keberanian mencoba, dengan berani mencoba maka kita akan sering membuat kesalahan yang dapat membanutu kita berpikir lebih matang. Terkadang melanggar aturan pun perlu kita alami, sebagai bahan perbandingan di kemudian hari. Yang terakhir adalah keberanian mengambil resiko, karena segala sesuatu pasti ada resikonya.
6. Adaptif
Diperlukan penyesuaian diri dalam segala situasi dan kondisi. Seperti kata pepatah, “masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.” Artinya harus dapat menyesuaikan diri di tempat kita berada. Namun dalam penyesuain diri tersebut, kita sebaiknya jangan sampai kehilangan jati diri.
Tuntutan Terhadap “Kompetensi SDM”
1. Pengetahuan/wawasan global
a. Dibutuhkan konsep yang terpadu serta dapat terwujud dalam kenyataan.
b. Tujuannya pada jalan keluar, penemuan baru dan kreatifitas.
c. Nilai-nilainya berlaku secara umum.
2. Keterampilan global
a. Mampu berbicara lebih dari satu bahasa.
b. Mampu memanfaatkan IPTEK.
c. Keseimbangan antara kecerdasan intelijen dan kecerdasan emosi.
3. Sikap dan perilaku
a. Berkembang seiring perkembangan zaman.
b. Kesadaran dari dalam diri dan ikut aktif.
c. Pemikiran baru dan kreatif.
d. Pantang menyerah.
“GAP” Hasil Pendidikan dengan Tuntutan Lingkungan Eksternal
1. Dalam pendidikan bersifat teoritis, sementara dalam tuntutan eksternal bersifat praktis.
2. Dalam pendidikan masalah yang diselesaikan bersifat sederhana, sementara dalam tuntutan eksternal masalah yang diselesaikan bersifat kompleks.
3. Dalam pendidikan sikap-sikap yang dibentuk sifat-sifat yang bersifat normatif, sementara dalam tuntutan eksternal sifat-sifat yang dibentuk sifat-sifat profesionalisme.
4. Dalam pendidikan lebih bersifat formal, sementara dalam tuntutan eksternal lebih bersifat informal.
5. Dalam pendidikan sukses dalam prestasi belajar, sementara dalam tuntutan eksternal sukses dalam prestasi karya.
Dampak Proses Kegiatan Belajar
1. Membuat pertumbuhan pribadi ke tingkat yang lebih tinggi.
2. Membuat keterampilan hidup lebih baik.
3. Membuat kemampuan belajar dan berpikir lebih matang.
4. Mempermudah penyelesaian masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar