Kamis, 30 September 2010

PENDIDIKAN CERDAS ISTIMEWA DAN BERBAKAT ISTIMEWA (Resume Mata Kuliah Profesi Pendidikan)


Anak CI+BI dalam bahasa aslinya yaitu bahasa inggris lebih dikenal dengan sebutan gifted-talented. Anak gifted mempunyai kemampuan bawaan berupa potensi, yang memerlukan pengembangan dan pelatihan secara serius dan sistematis. Anak gifted ini adalah suatu tipikal pelajar yang seringkali dikarakteristikkan sebagai anak yang cerdas, tapi mempunyai problem sekolah. Keadaan ini diikuti oleh perasaan frustrasi, agresif, ceroboh dan sering tidak mampu menyelesaikan tugas. Mereka juga sering membuat suasana kelas menjadi terganggu.

            Anak-anak gifted mempunyai ciri sebagai berikut:
1.      Kemampuan di atas rata-rata.
Kemampuan itu mencakup kemampuan umum (berpikir abstrak (Baum, 1984), dapat mengkonseptualisasikan sesuatu dengan cepat, mampu melakukan generalisasi dengan mudah, dan menyukai tantangan untuk memecahkan suatu problem (Barton & Stanes, 1989).
2.      Biasanya hobi atau kesukaan mereka adalah hal-hal yang membutuhkan motivasi, tantangan dan perlu pemikiran yang kreatif. Di lingkungan sekolah mereka mengamati banyak hal, sementara prestasi sekolahnya buruk.

Namun ada beberapa kesalah pahaman tentang anak CI+BI:
1.      Seringkali dianggap anak nakal dan susah diatur, karena orangtua maupun guru seringkali lebih memfokuskan pada kelemahan si anak, dan sangat sedikit perhatian pada kelebihannya.
2.      Pernyataan IQ hanya menyumbang 20% terhadap keberhasilan.
3.      Sebutan cerdas dan berbakat istimewa
4.      Cerdas vs bodoh
5.      Anak gifted dianggap homogen
6.      Seringkali diasumsikan sama dengan anak pintar
7.      Istilah inklusi dan diskriminasi

Ada perbedaan antara anak pintar dan anak cerdas, yaitu;
1.      Anak pintar menjawab pertanyaan dengan benar, sementara orang cerdas mempersoalkan pertanyaan.
2.      Anak pintar berminat dengan sesuatu, sementara orang cerdas penasaran dengan sesuatu.
3.      Anak pintar menunjukkan perhatian, sementara orang cerdas terlibat secara emosional, fisik dan mental.
4.      Anak pintar punya gagasan yang bagus, sementara orang cerdas punya gagasan yang aneh dan konyol.
5.      Anak pintar bekerja keras untuk sukses ujian, sementara orang cerdas jarang belajar tapi hasil ujian bagus.
6.      Anak pintar pemerhati yang baik, sementara orang cerdas peminat yang kritis dan bawel.
7.      Anak pintar mendengarkan dengan penuh minat, sementara orang cerdas menyimak untuk siap berdebat.
8.      Anak pintar memahami gagasan orang lain, sementara orang cerdas membentuk gagasan sendiri.

            Dalam merencanakan pendidikan bagi anak gifted adalah penting memperhatikan perkembangan dari kemampuan yang menonjol, minat, dan kapasitas intelektual mereka. Dan persoalan kesulitan belajar mereka yang cenderung menjadi permanen, juga sepantasnya menjadi pertimbangan penting untuk mengarahkan dan mendorong mereka untuk menggunakan strategi kompensasi. Jadi kita hendaklah mencari cara untuk mengurangi kesulitan yang mereka alami dengan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki. Program yang disediakan untuk mereka haruslah difokuskan pada hal-hal yang menjadi kelemahan mereka. Mereka harus dibimbing untuk memahami kelemahan dan kelebihannya lalu diarahkan untuk menyadari cara yang tepat untuk mengurangi kesulitannya dalam belajar, dan sebaliknya memupuk keberbakatanya. Para guru dan orangtua harus membantu anak- anak ini untuk membentuk konsep diri yang realistis dan sehat, di mana mereka dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Mereka harus disadarkan bahwa mereka dapat mengembangkan cara alternatif dalam berpikir dan berkomunikasi, karena mereka dapat belajar sesuai dengan kelebihan yang dimilikinya. Anak dengan keistimewaan ganda ini membutuhkan kurikulum yang tepat yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka akan pendidikan khusus bagi kedua keistimewaan tersebut. Kebutuhan ini berhubungan dengan keberbakatannya dan kelemahan atau kesulitannya yang spesifik (Whitemore, 1981). Dan jangan sampai perlakuan-perlakuan yang diberikan justru menghambat perkembangan dan pengekspresian keberbakatannya.
            Tipe anak gifted:
1.      Succesful
2.      Penantang
3.      The Underground
4.      The Dropouts
5.      The Double Labeled
6.      The Outonomous Learner

Macam layanan pendidikan:
1.      Content Based Acceleration
2.      Grade Based Acceleration
3.      Pengayaan dan Pendalaman

Anak-anak berkemampuan tinggi, tetapi mengalami hambatan dalam belajar meskipun jumlah mereka tidak banyak, namun perlu dicermati. Karena sesungguhnya mereka adalah aset yang berharga. Kendala yang nampak untuk membantu mereka adalah kesulitan dalam mengidentifikasi mereka. Seringkali potensi tinggi mereka tertutupi oleh kekurangannya. Bahkan ada sebagian dari mereka tidak pernah dikenal sebagai anak berbakat atau gifted, tetapi lebih dikenal sebagai anak bermasalah.

Rabu, 22 September 2010

PARADIGMA BARU MANAJEMEN PENDIDIKAN (Resume Mata Kuliah Profesi Pendidikan)


Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai paradigma baru manajemen pendidikan, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dari paradigma itu sendiri. Secara etimologi arti paradigma adalah sutu model dalam teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir. Maka dapat diambil kesimpulan, paradigma baru manajemen pendidikan adalah suatu model kerangka berpikir yang baru untuk mengubah pendidikan ke arah yang lebih baik.
            Ada beberapa paradigma baru yang dapat diaplikasikan ke dalam pendidikan, yaitu:
1.      Kompetitif
Dalam bahasa sehari-harinya kita lebih mengenal kata kompetitif dengan kata persaingan. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa menghindar dari persaingan, baik persaingan dari hal yang kecil hingga hal yang besar. Tetapi apakah yang harus kita lakukan agar kita berhasil dalam suatu persaingan?
Beberapa komponen yang dapat membantu kita meraih keberhasilan dalam suatu persaingan:
a.       Kemampuan
Untuk membantu kita melakukan segala sesuatunya, diperlukanlah kemampuan dari diri kita. Jikalau kita belum mempunyai kemampuan, maka hal yang perlu dilakukan adalah belajar.
b.      Kemauan
Di samping kita memerlukan kemampuan, kita memerlukan kemauan. Karena jika hanya kemampuan tanpa kemauan, maka kemampuan itu akan sia-sia. Begitupun sebaliknya, jika kemauan tanpa kemampuan, maka kemauan itu tidak ada gunanya.
c.       Mengikuti Aturan
Seseorang yang pandai namun tidak mengikuti aturan yang berlaku, maka ia layaknya seorang pemain sepakbola yang handal namun ketika ia bermain ia mengenakan sepatu pantofel.
d.      Sportifitas
Orang yang menjunjung tinggi nilai sportifitas, maka ia memudahkan langkahnya guna mencapai sesuatu yang ia inginkan.
2.      Transparan
Transparan mengandung pengertian kejelasan dan kepastian. Maka dalam pendidikan itu diperlukan kejelasan dan kepastian dalam pemberian informasi yang berkaitan dengan pendidikan, agar diketahui dan dipahami oleh seluruh komponen yang terkait dalam pendidikan.
3.      Spesialis
Orang-orang yang berhasil bukanlah orang-orang yang biasa-biasa saja, tetapi mereka yang memiliki kemampuan spesial dibandingkan dengan yang lainnya.
4.      Profesional
Profesional dapat dikatakan orang yang berpegang teguh pada kode etik profesinya. Berikut adalah ciri-ciri orang yang profesional:
a.       Sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja. Contohnya: seorang pemain sepakbola menggunakan sebagian waktunya untuk berlatih.
b.       Hidup untuk pekerjaannya. Orang-orang yang professional adalah orang yang hidup untuk bekerja, bukan orang yang bekerja untuk hidup.
c.       Memiliki pengetahuan dan etika. Dua hal tersebut berperan penting guna membantu orang mendapat gelar profesional.
5.      Dinamis (Terus berubah, terus berkembang)
Seiring perkembangan zaman dibutuhkan juga perkembangan dan perubahan dari cara berpikir manusia. Selain itu dibutuhkan juga keberanian mencoba, dengan berani mencoba maka kita akan sering membuat kesalahan yang dapat membanutu kita berpikir lebih matang. Terkadang melanggar aturan pun perlu kita alami, sebagai bahan perbandingan di kemudian hari. Yang terakhir adalah keberanian mengambil resiko, karena segala sesuatu pasti ada resikonya.
6.      Adaptif
Diperlukan penyesuaian diri dalam segala situasi dan kondisi. Seperti kata pepatah, “masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.” Artinya harus dapat menyesuaikan diri di tempat kita berada. Namun dalam penyesuain diri tersebut, kita sebaiknya jangan sampai kehilangan jati diri.
Tuntutan Terhadap “Kompetensi SDM”
1.      Pengetahuan/wawasan global
a.       Dibutuhkan konsep yang terpadu serta dapat terwujud dalam kenyataan.
b.      Tujuannya pada jalan keluar, penemuan baru dan kreatifitas.
c.       Nilai-nilainya berlaku secara umum.
2.      Keterampilan global
a.       Mampu berbicara lebih dari satu bahasa.
b.      Mampu memanfaatkan IPTEK.
c.       Keseimbangan antara kecerdasan intelijen dan kecerdasan emosi.
3.      Sikap dan perilaku
a.       Berkembang seiring perkembangan zaman.
b.      Kesadaran dari dalam diri dan ikut aktif.
c.       Pemikiran baru dan kreatif.
d.      Pantang menyerah.
“GAP” Hasil Pendidikan dengan Tuntutan Lingkungan Eksternal
1.      Dalam pendidikan bersifat teoritis, sementara dalam tuntutan eksternal bersifat praktis.
2.      Dalam pendidikan masalah yang diselesaikan bersifat sederhana, sementara dalam tuntutan eksternal masalah yang diselesaikan bersifat kompleks.
3.      Dalam pendidikan sikap-sikap yang dibentuk sifat-sifat yang bersifat normatif, sementara dalam tuntutan eksternal sifat-sifat yang dibentuk sifat-sifat profesionalisme.
4.      Dalam pendidikan lebih bersifat formal, sementara dalam tuntutan eksternal lebih bersifat informal.
5.      Dalam pendidikan sukses dalam prestasi belajar, sementara dalam tuntutan eksternal sukses dalam prestasi karya.
Dampak Proses Kegiatan Belajar
1.      Membuat pertumbuhan pribadi ke tingkat yang lebih tinggi.
2.      Membuat keterampilan hidup lebih baik.
3.      Membuat kemampuan belajar dan berpikir lebih matang.
4.      Mempermudah penyelesaian masalah.

Rabu, 15 September 2010

PERINGATAN HUT RI ke-65 di UNJ

Humas UNJ. 18/08/10. 17 Agustus 2010, Republik Indonesia memperingati hari jadi yang ke-65. UNJ mengadakan upacara untuk memperingati HUT kemerdekaan RI yang dihadiri oleh seluruh civitas akademika UNJ. Bertempat di halaman perpustakaan, upacara dimulai pukul 07.30 dan Rektor UNJ menjadi pemimpin upacara. Peminpin upacara dalam pidatonya mengatakan bahwa upacara ini diselenggarakan untuk mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang untuk negara Indonesia agar bebas dan merdeka dari para penjajah. Melalui tema “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Sukseskan Reformasi Gelombang Kedua, Untuk Terwujudnya Kehidupan Berbangsa Yang Makin Sejahtera, Makin Demokratis dan Makin Berkeadilan” Dalam upacara ini, beberapa pegawai UNJ mendapatkan tanda kehormatan Satyalencana Karya Satya untuk pegawai yang telah bekerja selama 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun, pemberian penghargaan untuk dosen teladan, dan mahasiswa berprestasi. (rr)